Tips Hidup Hemat di Ibukota untuk Kamu Para Pendatang

Tips Hidup Hemat di Ibukota untuk Kamu Para Pendatang

Posted by

Biaya hidup di ibu kota Tanah Air rata-rata terbilang lebih mahal jika dibandingkan dengan di kota lain. Umumnya, budget yang harus dikeluarkan per bulannya pun tak bisa dibilang sedikit. Namun untungnya hal itu juga dibarengi dengan penghasilan yang lebih besar bila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya. Meski rata-rata berpenghasilan lebih besar, namun bukan berarti pengeluaran uangmu malah jadi tak terkendali. Terutama jika Kamu merupakan salah satu pendatang yang mengadu keberuntungan di ibu kota.

Berdasarkan banyak pemberitaan di media massa Indonesia, jumlah upah yang tinggi merupakan salah satu daya tarik terbesar bagi para pendatang untuk merantau ke Jakarta. Setiap usai Lebaran, ada saja para pendatang yang menjejakkan kakinya, bahkan laporan CNN Indonesia pada Sabtu (23/06/2018) lalu menyebutkan bahwa jumlah pendatang kian meningkat dari tahun ke tahun.

Yang menjadi magnet dari kedatangan mereka adalah besarnya upah yang bisa didapatkan dari memeras keringat di Jakarta. Menurut data dari Kementerian Ketenagakerjaan, Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta adalah sebesar Rp 3,64 juta per bulan pada tahun ini. Jumlah ini naik 8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang bertengger di angka Rp 3, 35 juta.

Akan tetapi, Jakarta juga berada posisi teratas dari 10 kota dengan biaya hidup termahal di negara ini. Bisa dibayangkan, besarnya biaya hidup dan juga berbagai kebutuhan lain yang mesti dipenuhi membuatmu harus merogoh kocek dalam-dalam.

Jika tak cermat dan berhati-hati dalam pengelolaan uangmu, bisa-bisa pendapatan dari hasil kerjamu hanya menumpang lewat saja. Padahal, Kamu juga tentu ingin bisa mengirimkan uang kepada keluarga dan orangtuamu di kampung halaman sana. Kamu juga tentu punya banyak cita-cita serta life goals yang ingin Kamu wujudkan dengan ditunjang oleh sejumlah uang.

Itulah sebabnya Kamu juga perlu berdisiplin tinggi dalam mengatur uang agar pengeluaranmu tetap hemat dan terkendali. Selain itu, fokus dan konsisten yang berkelanjutan merupakan salah satu metodenya agar Kamu senantiasa terpacu untuk berupaya. Hidup di ibu kota akan membuatmu berada di tengah-tengah hingar bingar kota besar serta gaya hidup boros dan konsumtif. Berhati-hatilah mengelola keuangan serta menjaga pergaulan agar tak terbawa oleh arus hedonisme yang ada. Ingat, berfoya-foya tentu tak baik bagi hidup dan keuangan.

Baca Juga: Susah Nabung Walaupun Sudah Hidup Hemat? Mungkin Alasan-Alasan Ini Bisa Jadi Sebabnya

Berhati-hati dalam pergaulan merupakan salah satu faktor paling berpengaruh yang akan berdampak signifikan terhadap keuanganmu. Apakah dampaknya akan menjadi baik atau buruk, itu semua tergantung kepadamu.

Agar tidak bingung, mari cermati beberapa tips hemat hidup di ibukota agar keuanganmu tetap aman, mapan dan terkendali.

Tentukan Sasaran Keuanganmu

Tentukan Sasaran Keuangan
Tentukan Sasaran Keuangan

Langkah pertama ini akan menjadi kerangka serta penentu dari visi misimu selama mengadu nasib di ibukota. Apa alasan utamamu pergi merantau ke ibukota? Tentu salah satunya agar menjadi lebih mapan secara finansial, bukan? Jadikan hal ini fondasi yang kokoh untuk mengatur caramu menggunakan uang. Kerangka ini juga berguna agar Kamu tidak teralihkan oleh urusan hedonisme yang rata-rata hanya akan menimbulkan kesenangan sesaat.

Pecah sasaran keuanganmu menjadi tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Tujuan jangka pendek salah satu contohnya seperti menambah tabungan pribadi serta mengirimkan uang ke orangtua di kampung halaman. Tujuan menengah bisa berupa menabung dan berinvestasi untuk mencapai cita-cita seperti menikah dan berinvestasi. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah tersedia dana pensiun yang memadai untukmu di hari tua, memenuhi biaya pendidikan anak kelak dan lain sebagainya.

Tuliskan semua sasaran keuanganmu dalam catatan khusus. Membuat model kerangka sasaran keuangan seperti ini bisa membuatmu tetap tekun berkonsentrasi mewujudkannya dengan bertahap dan signifikan. Sehingga Kamu pun tak akan dengan mudahnya tergoda oleh isu-isu yang bisa mengalihkan misi keuanganmu (seperti berbelanja secara impulsif dan sering menongkrong di café mahal).

Susun Anggaran

Susun Anggaran
Susun Anggaran

Susun juga anggaran pengeluaran setiap bulan sejak awal menerima gaji. Hitung dan buatlah rancangan budget yang perlu Kamu keluarkan untuk biaya hidup per bulannya. Hitung juga berapa banyak uang yang bisa Kamu tabungkan. Idealnya, Kamu akan perlu membentuk kas Dana Darurat. Bentuk kas ini dengan penghasilanmu hingga jumlahnya menjadi minimal biaya hidupmu selama 6 bulan. Demikian aturan idealnya.

Selain itu, tabung juga sebagian dari penghasilanmu mulai 10 hingga 30% per bulannya. Di awal, Kamu bisa membagi 10% penghasilanmu untuk ditabungkan per bulannya sebagai tabungan pribadi, 10% lagi untuk ditabungkan sebagai Dana Darurat dan 10%-nya lagi untuk dikirimkan ke sanak keluarga di rumah, misalnya.

Pembagian Dana Darurat berbeda dengan tabungan pribadimu karena kas ini akan membantumu untuk mengatasi kejadian tak terduga yang bisa saja datang. Contohnya seperti tiba-tiba terkena sakit penyakit hingga musibah kecelakaan.

Pilih Hunian yang Sederhana

Pilih Rumah Sederhana
Pilih Rumah Sederhana

Jangankan harga rumah hunian, untuk menyewa rumah sewa di Jakarta saat ini saja sudah tak bisa lagi dibilang murah. Jadi jika ternyata ada sanak kerabatmu yang tinggal di ibukota, Kamu bisa ikut menumpang atau bahkan mengekos di sana dengan tarif harga yang lebih murah.

Jika tak ada kenalan dan kerabat, temukan rumah sewa atau kamar kos yang harganya relatif bersahabat. Pilih tempat tinggal sederhana yang harganya terjangkau. Tak perlu mewah dengan fasilitas ini itu, yang penting adalah kebersihannya. Sebagai gambaran, biaya sewa kamar di Jakarta cukup mahal. Untuk satu kamar kecilnya saja, rata-rata disewakan mencapai Rp 800.000 per bulannya.

Masak Makanan Sendiri

Masak Sendiri
Masak Sendiri

Budget untuk makanan akan memakan porsi yang lumayan besar. Kamu tak mau gajimu hanya terus-menerus terpakai untuk makan di luar. Agar lebih hemat lagi, Kamu bisa memasak sendiri makananmu. Bangun lebih awal sebelum pergi kerja, sehingga Kamu bisa menyempatkan diri untuk memasak santapan lezat sesuai selera dan tetap ramah bagi kantongmu. Kamu juga bisa membekal makanan sendiri untuk memaksimalkan penghematan dan mengurangi pengeluaran.

Selain itu, Kamu juga harus jeli memanfaatkan promo menarik saat sedang belanja kebutuhan pokok untuk makanan. Jika misal ada promo tertentu sedang berlangsung, dan saat itu ada rezeki lebih, belilah kebutuhan pokok makanan dalam jumlah dua kali lebih banyak.

Untuk bahan-bahan makanan dan minuman yang dikemas seperti mie instan, susu dan kornet, jangan lupa cek tanggal kadaluarsa barang tersebut terlebih dahulu sebelum membeli. Karena langkah ini dimaksudkan untuk berhemat dan menyimpannya sebagai stok makanan, Kamu akan ingin membeli item yang tanggal kadaluarsanya masih lama.

Cuci Baju Sendiri

Cuci Baju Sendiri
Cuci Baju Sendiri

Biaya laundry di ibukota juga cukup menguras dompet. Oleh sebab itu, Kamu akan ingin mencuci pakaian dan sebagainya tanpa harus mengeluarkan uang untuk binatu. Cara ini merupakan salah satu langkah bertahan hidup dan berhemat yang bisa dilakukan agar uangmu tetap awet hingga akhir bulan. Pasalnya, biaya laundry juga akan ditambah dengan ongkos antar pakaiannya, alhasil harganya akan jadi lebih mahal.

Sebagai langkah penghematan, siapkan alat-alat cucimu terlebih dahulu seperti sikat, ember, deterjen dan pewangi pakaian untuk menjaga pakaianmu tetap bersih dan terawat. Beli yang harganya paling ekonomis saat berbelanja untuk kebutuhan ini.

Hindari Foya-foya dan Hedonisme

Hentikan Hedonisme
Hentikan Hedonisme

Gaya hidup kelas atas yang cenderung konsumtif dan hedonisme hanya akan berakibat buruk bagi keuanganmu. Apalagi jika ternyata misalnya Kamu malah nekat memaksakan diri mengikuti pergaulan yang membuat pengeluaranmu menjadi sangat boros melebihi apa yang bisa Kamu hasilkan. Wah, bisa-bisa malah jadi lebih besar pasak daripada tiang.

Ini bukan berarti Kamu tidak diperbolehkan untuk bersenang-senang dan mendapat hiburan. Rekreasi dan relaksasi memang dibutuhkan setiap orang agar lahir batinnya tetap sehat serta terhindar dari stress. Meski begitu, tentukanlah batasan dan porsinya sesuai kapasitas dompetmu. Karena Kamu tentu ingin lebih memprioritaskan kesehatan keuanganmu ketimbang hura-hura sesaat.

Sisihkan 10% dari penghasilanmu setiap bulannya untuk memenuhi kas rekreasi dan hiburan. Misal, jika Kamu bersikeras ingin menghabiskan budget sebesar Rp 200.000 setiap minggu demi untuk makan di café dan restoran mahal ibukota, coba kalkulasikan jika uang itu ditabungkan untuk masa depan. Uang Rp 200.000 untuk sekali makan diluar bisa digunakan untuk makan beberapa hari di rumah dengan menu lebih sederhana namun tetap 4 sehat 5 sempurna.

Pikirkan juga jika uang itu bisa dikirimkan kepada keluarga di kampung halaman yang lebih membutuhkan, yang biaya hidupnya relatif lebih murah. Tentu akan jauh lebih berkah dan bermanfaat jika dibandingkan dengan acara makan di restoran mewah selama beberapa jam saja.

Hidup sederhana sesuai kemampuan dan kondisi keuangan yang ada akan membuatmu terhindar dari stress berkepanjangan. Ini juga mencakup menghindarkan diri dari godaan membeli barang-barang bermerek yang harganya kerap tak masuk akal. Jika ada barang yang lebih murah dengan kualitas tinggi, mengapa tidak?

Banyak orang yang bisa tampil rapi, necis dan keren tanpa harus mengenakan barang branded. Hati-hati, bisa jadi barang bermerek paling mahal sekalipun malah terlihat tak bagus untukmu. Yang penting adalah pintar-pintar memadupadankan apa yang cocok dan selaras bagi penampilanmu.

Tahan Godaan Belanja Spontan

Tahan Godaan Belanja Spontan
Tahan Godaan Belanja Spontan

Hal ini juga bisa menjadi sumber malapetaka bagi keuanganmu, terutama jika Kamu memiliki kartu kredit. Ingatlah bahwa berbelanja dengan kartu kredit harus diganti dan dikembalikan dengan tambahan suku bunga. Dengan demikian, Kamu akan ingin berpikir ratusan kali sebelum memutuskan untuk menggunakannya. Sesekali berjalan-jalan ke mall dan melihat-lihat bisa mengusir kepenatanmu. Meski begitu, jika Kamu merupakan seorang yang berkecenderungan untuk impulsif, sebaiknya hindari windows shopping. Jika Kamu tak tahan godaannya, bisa-bisa Kamu malah akan berbelanja dengan spontan saat itu juga.

Pertama, saat Kamu menginginkan suatu barang, jangan langsung membelinya saat itu juga. Tunda dulu selama sebulan. Bisa jadi Kamu sudah tidak menginginkannya lagi. Biasakan untuk mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Susun prioritasmu dengan ideal dan benar.

Kedua, jangan berbelanja jika sedang galau dan lapar. Beberapa riset mengatakan bahwa berbelanja saat merasa galau dan lapar malah akan membuat orang menjadi semakin impulsif saja. Oleh sebab itu, berbelanjalah hanya ketika sudah kenyang dan berada dalam suasana hati yang baik. Hal ini penting untuk diingat, banyak orang yang karena bad mood kemudian memutuskan untuk jalan-jalan, makan-makan dan berbelanja. Alhasil, jangan heran jika pulang-pulang mereka kebablasan mengeluarkan terlalu banyak uang.

Baca Juga: 4 Alasan Utama Mengapa Susah Mengatur Keuangan Selagi Muda

Buat Pikiran Menjadi Positif agar Keluar dari Gaya Hidup Konsumtif

Sebaliknya, Kamu bisa melakukan jogging atau olahraga lainnya untuk menyamankan suasana hatimu. Kamu juga bisa beribadah atau menghubungi sanak keluargamu di kampung halaman agar merasa lebih baik. Sehingga pikiranmu lega dan keuanganmu tetap terjaga. Melakukan penghematan memang tidak mudah, tapi percayalah lama-lama kebiasaan barumu ini akan terbentuk dan membuahkan hasil yang manis di kemudian hari. Tetap semangat dan sukses selalu!